LAPORAN
KULIAH KERJA LAPANGAN STUDI KEANEKARAGAMAN MAKROALGA DI ZONA PASANG SURUT
PANTAI KONDANG MERAK
STUDI KEANEKARAGAMAN
MAKROALGA
DI ZONA PASANG SURUT
PANTAI KONDANG MERAK
Dosen
Pengampu:
Sulisetijono,
M. Si.
Ainun
Nikmati Laily, M. Si.
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN
TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2013
Bissmillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur ke Hadirat
Allah SWT yang melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Pantai Kondang
Merak yang menjadi salah satu tugas mata
kuliah Taksonomi Tumbuhan Rendah. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan
kepada junjunan alam nabi besar Muhammad SAW.
Selanjutnya, kami ingin
mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah banyak memberikan
bantuan, bimbingan dan motivasi khususnya kepada:
1.
Dr. Evika Sandi Savitri, M,Si. selaku Ketua Jurusan Biologi yang telah
memotivasi, membantu dan memberikan penulis arahan yang baik dan benar dalam
menyelesaikan penulisan laporan penelitian ini.
2.
Ainun Nikmati laily,M.Si. selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan waktu
luang, arahan dan kontribusi dalam penyelesaian laporan Kuliah Kerja Lapangan
(KKL) di Pantai Kondang Merak ini.
3.
Semua pihak yang telah membantu penulis hingga terselesaikanya laporan
penelitian ini, Semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal atas jasa dan
bantuan yang telah diberikan.
Penulis
menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna, kritik dan saran sangat
dibutuhkan demi penyempurnaan laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini. Semoga
laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini
dapat bermanfaat dan menambah khazanah ilmu pengetahuan.
Malang,
19 Oktober 2013
Tim
Penulis
BAB I
Allah menciptakan Alam
Semesta ini terdiri dari daratan dan lautan. Pada daratan dan lautan tersebut
terdapat berbagai macam mahluk hidup yang telah diciptakan dengan
sebaik-baiknya penciptaan. Jumlah mahluk hidup di lautan lebih banyak dari pada
mahluk hidup yang ada di daratan.
Hal tersebut terbukti dalam
alquran bahwa penyebutan kata laut atau dalam bahasa arabnya adalah bahr sebanyak
32 ayat sedangkan kata daratan (barrun)
hanya 13 ayat. Allah menciptakan tumbuhan yang berada di laut yaitu untuk
kemakmuran dan kesejahteraan hidup
manusia yang diantaranya bisa di jadikan sebagai bahan makanan, sebagai energi,
perhiasan dan lain-lain, diantara tumbuhan laut
yang bisa dimanfaatkan manusia adalah
Alga. Firman allah dalam surah An-nahl ayat 14:
وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا
مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا
وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
Dan Dia-lah, Allah yang
menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang
segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai;
dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan)
dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (QS.
An-Nahl [16] : 14).
Alga adalah organisme berkloroplas
yang dapat menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis. Ukuran alga beragam dan beberapa micrometer sarnpai
beberapa meter panjangnya. Alga tersebar luas di alam dan dijumpai hampir
disegala macam lingkungan yang terkena sinar matahari. Dalam dunia tumbuhan
ganggang termasuk kedalam dunia Thallopyta (tumbuhan talus). Thallophyta adalah tumbuhan yang belum memiliki daun,
akar dan batang yang jelas dan Thallophyta merupakan tumbuhan yang bertalus
termasuk diantaranya adalah golongan jamur atau
fungi, bakteri dan ganggang atau
alga.
Indonesia adalah negara maritim karena
perairannya lebih luas dari pada daratan. Berbagai biota laut baik flora maupun
fauna terdapat di Indonesia. Keragaman jasad-jasad hidup yang kesemuanya
membentuk dinamika kehidupan di laut yang saling berkesinambungan dapat
ditemukan.
Salah satu tempat yang
keragaman flora dan faunanya masih alami adalah pantai Kondang Merak. Menurut
Bengen (2001) laut sebagai penyedia sumber daya alam yang produktif baik
sebagai sumber pangan, tambang mineral, dan energi, media komunikasi maupun
kawasan rekreasi atau pariwisata. Karena itu wilayah pesisir dan lautan
merupakan tumpuan harapan manusia dalam pemenuhan kebutuhan di masa datang. Alga
termasuk salah satu biota laut yang banyak ditemukan di laut.
Oleh karena itu, kuliah
kerja lapangan (KKL) di kondang merak ini sangat penting sekali agar mahasiswa
jurusan biologi Khususnya UIN maliki
malang dapat mentafakkuri ayat-ayat qauniyah, dapat mengaplikasikan teori-teori
yang didapatkan di perkuliahan dan dapat memberikan kontribusi kepada
masyarakat luas khususnya dalam bidang sains.
Tujuan
diadakannya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di kondang merak ini adalah:
1.
Untuk mengetahui keanekaragaman alga yang berhabitat
di zona pasang surut Pantai Kondang Merak Malang Selatan.
Setelah
melakukan Kuliah Kerja Lapangan (KKL)
di Kondang Merak ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.
Pengetahuan tentang dunia laut.
2.
Informasi bagi Masyarakat luas
tentang dunia laut.
3.
Mengetahui manfaat dari makro
alga yang diamati.
4.
Pengetahuan bagi mahasiswa dalam membedakan semua spesies dari makroalga yang ada.
5.
Pemahaman bagi mahasiswa tentang semua makroalga yang ada di Pantai Kondang
Merak.
Klasifikasi
alga laut, makro alga menurut Dawes (1981), terdiri dari tiga division yaitu
Rhodophyta (alga merah ), Phaeophyta ( alga cokelat ), dan Clhorophyta ( alga
hijau ). Menurut Tjitrosoepomo 1998, phaeophyceae adalah ganggang yang berwarna
pirang. Dalam kromatoforanya terkandung klorofil a, karoten, dan xantofil ,
tetapi terutama fikixantin yang menutupi warna lainnya dan yang menyebabkan
ganggang itu kelihatan berwarna pirang (Tjitrosoepomo,1998).
Phaeophyta (berasal dari bahasa Yunani, phaios yang
berarti gelap), merupakan alga multiseluler yang dikenal dengan nama alga
coklat. Warna coklatnya berasal dari pigmen fukosantin yang dimilikinya. Selain
pigmen coklat, pada Phaeophyta ditemukan juga pigmen lainnya berupa klorofil a
dan c, serta pigmen karotin. Oleh karena keberadaan klorofil ini, Phaeophyta
bersifat autotrof. Fotosintesisnya terjadi pada helaian yang menyerupai daun.
Hasil fotosintesisnya berupa karbohidrat yang yang disebut laminarin (Estiati
B, Hidayat. 1995).
Alga coklat umumnya hidup di lingkungan laut. Hanya beberapa jenis
Phaeophyta yang saja yang hidup di air tawar. Banyak alga coklat memiliki
struktur berisi udara yang membuat mereka dapat melayang di air (Pitriana,
2008). Phaeophyta hidup melekat pada dasar perairan (melalui semacam akar),
sedangkan bagian tubuh lainnya mengapung di air, dan melekat pada batu karang
(Aziz, 2008).
Bentuk tubuh Phaeophyta tampak menyerupai tumbuhan tingkat tinggi karena
adanya bagian yang menyerupai akar, batang, dan daun. Tinggi Phaeophyta dapat
mencapai 50 sampai 100 meter (Aziz, 2008).
Anggota kelopok Phaeophyta juga dikenal sebagai tumbuhan berukuran raksasa
(giant kleps), misalnya Macrocystis sp. dan Nereocytis
sp. yang menghuni pantai pasifik. Di indonesia, jenis Phaeophyta yang
terkenal adalahTurbinaria austrilis, Sargasum siliquosum, dan Fucus
vesiculosus. Ketiga jenis alga tersebut biasa dijimpai sepanjang garis
pantai. Di laut yang beriklim sedang, terutama di laut Atlantika Utara dikenal
sebagai kawasan Alga Sargassum. Alga tersebut tampak mengambang dan
menutupi sebagian permukaan laut sehingga orang mengenalnya sebagi Sargaso
(Aziz, 2008).
Alga
cokelat kebanyakan multiseluler dan merupakan begian dari populasi rumput laut
dilingkungan lingkungan laut beriklim sedang dan dingin. Seperti juga pada
cryshophyta, phaeophyta juga memilki klorofil a dan b, serta karetonoid
fukoxantin. Phaeophyta juga menyimpan kalorinya sebagai minyak dan sakarida
lamarin. Dalam bentuk kelp raksasa, panjangnya bias mencapai lebih dari 50 m.
pola reproduksinya dirincikan oleh pergiliran generasi ( Fried : 2005 ).
Semua
alga cokelat multiseluler, bentuk bentuk yang hampir seperti tumbuhan semata
mata ditemukan diair asin. Gulma batuan yang membentuk hamparan padat yang
berganti ganti dan kelp merupakan anggota filum ini yang besar dan tersebar
luas. Alga cokelat dipakai untuk makanan dibeberapa daerah pantai dipermukaan
bumi, di Amerika serikat, sebagai sumber pupuk dan yodium ( Kimball, 1999 ).
Kebanyakan
phaeophyceae hidup sebagai litofit, tetapi beebrapa jenis dapat sebagai epifit
atau endofit pada tumbuhan lain atau alga makroskopik yang lain. Pada umumnya
phaeophyceae memiliki tingkat yang lebih tinggi secara morfologi dan anatomi
differensisasinya dibandingkan keseluruhan alga. Tidak ada bentuk yang berupa
sel tunggal atau koloni ( filament yang tidak bercabang). Susunan tubuh yang
paling sederhana adalah filament heterotrikus. Struktur thalus yang paling
kompleks dapat dijumpai pada laga pirang yang tergolong kelompok Nereocystis,
Makrocystis, dan sargassum ). Pada alga ini terdapat differensiasi eksternal
yang dapat dibandingkan dengan berpembuluh. Talus dari alga ini mempunyai alat
pelekat menyerupai akar, dan dari alat pelekat ini tumbuh bagian yang tegak
dengan bentuk sederhana atau bercabang seperti pohon dengan cabang yang
menyerupai daun dengan gelembung udara. Alat gerak pada phaeophyceae pada
umumnya berupa flagella yang letaknya berjumlah dua dengan ukuran berbeda. Cadangan
makanan berupa laminarin dan manitol. Reproduksi dapat dilakukan secara
vegetative, sporik, dan gametik. Reproduksi vegetative umunya dilakukan
fragmentasi talus (Sulisetijono, 2009).
Kandungan
Bahan kimia pada Sargassum
Algae
Sargassum mudah diperoleh di perairan Indonesia, kandungan bahan kimia
utama sebagai sumber alginat dan mengandung protein, vitamin C, tannin, iodine,
phenol sebagai obat gondok, anti bakteri dan tumor (TRONO & GANZON 1988),
sebagai berikut:
1.
Algin
Algin
merupakan asam alginik, Alginik dalam bentuk derivat garam dinamakan garam
alginat terdiri dari sodium alginat, potasium alginat dan amonium alginat.
Garam alginat tidak larut dalam air, tetapi larut dalam larutan alkali. Asam
alginik tersusun dari asam D-Manuronik dan asam L - Guluronik.
2.
Manfaat alginat
Kandungan
koloid alginat dari algae Sargassum (Gambar 6.) dalam industri kosmetik
digunakan sebagai bahan pembuat sabun, po-made, cream body lotion, sampo dan
cat rambut. Di industri farmasi sebagai bahan pembuat kapsul obat, tablet,
salep, emulsifier, suspensi dan stabilizer. Di bidang pertanian sebagai bahan
campuran insektisida dan pelindung kayu. Di industri makanan sebagai bahan
pembuat saus dan campuran mentega. Manfaat lainnya dalam industri fotografi,
kertas, tekstil dan keramik. Di bidang kesehatan iodine digunakan sebagai obat
pencegah penyakit gondok..
Alga merah atau Rhodophyta (berasal dari bahasa Yunani, rhodon,
yang artinya merah). Rhodophyta merupakan alga multiseluler berukuran besar
yang biasa dikenal sebagai rumput laut. Warnanya merah karena mengandung pigmen
fikoeritrin (Estiati B, Hidayat. 1995).
Alga merah hidup di luat dalam, terutama di laut beriklim panas. Anggota
kelompok alga merah dapat ditemukan di daerah pantai hingga kedalaman 100 meter
(Aziz, 2008).
Alga merah biasa menempel pada alga lain atau pada batu. Ada juga yang
hidup bebas mengapung dipermukaan air. Alga merah biasa ditemukan di air cukup
dalam, lebih dalam dibanding tempat tumbuh kelompok alga lainnya. Fikobilin,
pigmen pada alga merah, dapat mengumpulkan cahaya hijau dan biru yang masuk ke
air yang dalam. Dengan begit alga merah dapat berada di lokasi perairan yang
lebih dalam dibanding alga lainnya (Estiati
B, Hidayat. 1995).
Bentuk alga merah seperti rumput sehingga sering disebut sebagai rumput
laut (seaweed). Tubuhnya bersel banyak dan kebanyakan berbentuk lembaran
sederhana dengan cabang-cabang halus seperti pita. Di dalam selnya terdapat
pigmen klorofil a dan fikobilin. Fikobilin adalah semacam pigmen yang terdapat
pada fikoeritrin dan fikosianin. Melalui pigmen fikobilin, gelombang cahaya
yang masuk ke dalam laut diserap. Kemudian mentransfer energi cahaya ke
klorofil untuk keperluan fotosintesis. Bentuk dari hasil fotosintesis adalah
karbohidrat yang disebut tepung floridean (Aziz, 2008).
Contoh
alga merah adalah Euchemma spinosum, Gilidium, Rhodymenia, danScinata.
Eucemma spinosum merupakan penghasil agar-agar di daerah dingin. Beberapa
famili Corraline memiliki dinding sel berkalsium karbonat.
Alga ini ikut membentuk fosil (Estiati
B, Hidayat. 1995).
Alga
merah terutama tersusun atas rumput laut. Rhodophyta mengandung klorofil a,
tapi tidak ada yang mengandung klorofil b dan c. warna merahnya disebabkan oleh
keberadaan sebuah pigmenaksesoris, fikoeritrin, yang tergolong kedalam kelompok
fikobilin. Semua rhodophyta adalah multiseluler dan bereproduksi secara
seksual. Walaupun hanya beberapa spesies yang telah dipelajari secara mendetail
biasanya ditemukan pergiliran generasi (fried dkk, 2005).
Alga
merah merupakan eukariota yang baik sehingga mereka menggabungkan klorofilnya
dalam satu atau lebih kloroplas. Akan tetapi, system membrane dalam kloroplas
ini sangat mirip dengan yang terdapat dalam sel sel alga hijau biru. Kesamaan
antara keduanya itu menyebar sampai ke pigmennya. Alga merah sebagaimana alga
hijau biru, mempunyai fikosianin dan fikoeritrin dalam membrane
fotosintetiknya. Keduanya berguna sebagai pigmen antenna, yang meneruskan
energy yang diserap kepada klorofil a.
Beberapa alga merah digunakan sebagai
makanan didaerah pantai, terutama dikawasan Timur. Agar agar yang secara luas
digunakan sebagai dasar untuk pesmbiakan bakteri dan organism lain diskstrak
dari alga merah (Kimball, 1992).
Talus
dari alga merah bervariasi, mengenai bentuk tekstur dan warnanya. Bentuk talus
ada yang silindris, pipih, dan lembaran. Rumpun yang terbentuk oleh berbagai
system percabangan ada yang tampak sederhana berupa filament dan ada pula yang
berupa percabangan yang komplek. Warna talus bervariasi, ada merah, ungu,
cokelat, dan hijau ( Sulisetijono, 2009 )
Penelitian
ini dilakukan di Pantai Kondang Merak Kabupaten Malang selama 2 hari yaitu pada
hari Sabtu hingga Minggu pagi pada tanggal 12-13 Oktober 2013. Penelitian ini
dibagi menjadi dua langkah. Langkah pertama adalah koleksi spesies alga yang
tersebar pada sepanjang zona pasang surut pantai Kondang Merak pada sore hari
Sabtu mulai pukul 15.30- 17.00. Langkah kedua dilakukan pada keesokan harinya,
yaitu identifikasi dan klasifikasi alga
yang telah di temukan.
1. Kamera 1 buah
2. Penggaris 2
buah
3. Kantong
Plastik secukupnya
4. Ice box 1
buah
5. Buku
identifikasi 4
buah
6. Alat tulis
dan kertas secukupnya
7. Toples Kaca
bening 4
buah
8. Label secukupnya
1. Formalin 5% secukupnya
2. Spesies Alga
1. Pertama menunggu air
laut surut
2. Dimulailah pencarian
spesies alga di sekitar bibir pantai kira – kira 0,5 – 10 m dari bibir pantai
3. Setiap spesies alga yang
ditemukan langsung didokumentasikan menggunakan kamera dan diukur dengan
penggaris
4. Setelah didokumentasikan
, dimasukkan ke dalam Ice box agar alga tetap segar
5. Lalu masing – masing
spesies alga diidentifikasi dengan menggunakan buku identifikasi sebagai
pedomannya.
6. Dicatat dalam laporan
sementara ciri – ciri alga dan digunakan kunci determinasi untuk
mengidentifikasi spesiesnya.
7. Setelah ditemukan nama
spesiesnya , alga dimasukkan ke dalam toples kaca bening yang telah diisi
dengan formalin sebagai upaya pengawetan.
8. Masing – masing toples
diberi label untuk mengetahui nama spesiesnya .
|
Gambar Pengamatan
|
Gambar Literatur
|
|
Woo dkk, 2008
|
Keterangan:
1.
Memiliki
Hodfast yang melekat pada karang
2.
Talus
berwarna merah keunguan pada bagian dekat holdfast dan semakin ke ujung
warnanya semakin memudar
3.
Tekstur
talus kenyal, permukaannya licin dan mengilap. Beberapa bagian permukaan
sedikit bergelombang dan jika ditekan seperti berisi air.
4.
Tepi
berlekuk-lekuk dengan kedalaman lekuk yang variatif.
Klasifikasi
Gracilaria textorii menurut E. Y. Dawson:
Kingdom : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gracilariales
Famili : Gracilariaceae
Genus : Gracilaria
Spesies : Gracilaria textorii
Salah
satu spesies alga yang kami temukan adalah alga golongan divisi Rhodophyta
yaitu Gracilaria textorii. G. textorii memiliki
bentuk yang sedikit mirip dengan Ulva lactuca namun ukurannya lebih besar dan
lebih tebal. G. textorii memiliki warna merah keunguan dengan
warna pada pangkal lebih gelap, semakin ke ujung warnanya semakin memudar.
Bentuk talusnya serupa lembaran licin, kenyal dan mengilap. Tebalnya sekitar
1-2 mm. Beberapa bagian pada permukaan talusnya ada bagian yang sedikit
menonjol seperti mengandung air. Tepinya bergelombang tidak teratur menyerupai
lekuk-lekuk sedalam setengah sampai satu senti.
G. textorii merupakan salah satu spesies yang umum di
Korea. Meskipun Suringar sebelumnya menamai spesies ini dengan Sphaerococcus
textorii setelah studinya mengenai spesimen-spesimen di Jepang, pada
1891 Hariot menempatkan spesies ini dalam genus Gracilaria berdasarkan daunnya
yang rata, sel-sel dengan butiran amilum, dan sistokarp hemisferis yang
menyebar di dua sisi helaian talusnya. Spesies ini juga ditemukan di Rusia,
Taiwan, Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, Pulau-Pulau Pasifik, Samudera
Hindia, Australia dan Selandia Baru. G. textorii memiliki
karakteristik talus yang rata dengan percabangan dikotom yang tidak teratur
(Kim dkk, 2006).
G. textorii banyak ditemukan tumbuh pada karang,
terutama pada daerah pasang surut dan pada permukaan zona subliteral. Secara
morfologis, lebar talusnya sekitar 1-2 cm dan tebalnya sekitar 500-800
mikrometer. Beberapa bagiannya bergelombang dan tipis pada bagian atas.
Warnanya merah kecoklatan dan kadang merah kekuningan (Yamamoto, 1978).
Sporofit
dari G. textorii dapat diamati pada bulan Februari hingga Agustus
pada zona intertidal. Gametogenesis mulai terjadi dari Juli sampai Agustus.
Sporofit menghilang setelah dia mengeluarkan atau melepas sel gametnya. Pada
zona subliteral, bagaimanapun, sporofit dapat diamati sepanjang tahun dan
populasinya meningkat sepanjang Juli hingga Agustus (Woo dkk, 2008).
G. textorii memiliki bentuk yang berbeda dari alga
lainnya karena cabang-cabangnya yang sempit dan relatif besar, yaitu sekitar
6-12 inchi serta struktur parenkimalnya. Biasanya berwarna merah pudar,
teksturnya licin, dan menetap di daerah intertidal dan zona intertidal (Nabhan,
2003)
Seperti golongan Gracilaria lainnya, G.
textorii hidup dalam 3 bentuk pertumbuhan. Se-cara morfologi
memang ketiga bentuk pertumbuhan tadi sangat sulit dibedakan, namun jika
dilihat dari segi anatomi maka dapat dibedakan antara bentuk sporofit,
gametofit dan bentuk karposporofit. Bentuk sporofit adalah tumbuhan yang
memiliki kromosom diploid (2n), gametofit adalah bentuk tumbuhan haploid (In),
sedangkan karposporofit adalah bentuk tumbuhan haplo-diploid (sedang
mengandung). Umumnya, karposporofit dapat dibedakan dari sporofit dan
gametofit, karena pada permukaan thallus sering dijumpai tonjolan-tonjolan
bulat (Sjafrie, 1990).
Seperti
umumnya Rhodophyceae, daur hidup Gracilaria bersifat 'trifasik' (3
bentuk pertumbuhan), yang mengalami per-gantian generasi antara seksual dan
aseksual. Apabila awal perkembangbiakan dimulai dari generasi aseksual maka
akan terlihat bahwa sporofit akan membentuk suatu badan yang disebut dengan
tetrasporangia. Adapun ben-tuk dan ukuran tetrasporangia pada masing-masing
jenis sangat bervariasi (Sjafrie, 1990).
Ada
sedikit kejanggalan pada spesies yang kami temukan ini karena adanya banyak
perbedaan dari gambar literatur yang kami dapat. Hal ini mungkin karena keterbatasan
pengetahuan yang kami miliki mengenai taksonomi dan cara klasifikasi serta
identifikasi.
|
Gambar Pengamatan
|
Gambar Literatur
|
|
www.personal.umich
|
Keterangan
:
1. Memiliki
holdfast dan thallus
2. Warna thalus
coklat
3. Memiliki air
bladder
4. Thallus
bagian atas seperti Turbinaria (berbentuk seperti terompet)
5. Thallus
bagian bawah seperti sargassum (berbentuk lembaran dengan tepinya yang bergerigi)
6. Percabangan
semakin ke atas semakin kecil
7. Batang
pendek dengan percabangan utama tumbuh rimbun
Klasifikasi
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Phaeophyta
Kelas
: Phaeophyceae
Ordo
: Fucales
Family
: Sargassaceae
Genus
: Sargassum
Spesies : Sargassum turbinarioides
Berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan diketahui bahwa spesies yang ditemukan
bentuknya mirip dengan Sargassum sp.
Dan Turbinaria sp. Hal itu dapat
diketahui dari bentuk thallus bagian bawah dan atas yang berbeda. Thallus bagian bawah berbentuk seperti Sargassum sp.(berbentuk lembaran yang
tepinya bergerigi), sedangkan thallus bagian atas bentuknya menyerupai Turbinaria sp.(berbentuk seperti
terompet), memiliki holdfast dan thallus, warna thalus coklat, terdapat air bladder (pelampung), percabangan semakin
ke atas semakin kecil, Batang pendek dengan percabangan utama tumbuh rimbun.
Secara morfologi, thallus
dari ganggang ini berbeda dengan ganggang yang lain, dengan bagian-bagian yang
dapat dibedakan menjadi ”holdfast” (alat pelekat), sumbu pokok yang
silindris, cabang-cabang yang menyerupai daun yang steril, gelembung udara yang
berbentuk seperti bola reseptakel. Berwarna coklat cerah, melekat pada substrat
dengan alat pelekat, thallus Sargassum dibedakan oleh sistem percabangan
lateralnya dengan cabang-cabang yang pertumbuhannya terbatas (daun/filoid)
dan cabang-cabang yang pertumbuhannya tidak terbatas (batang/cauloid).
Cauloid tersebut ramping bercabang atau tidak bercabang, dengan filoid yang
lebar dan sempit, dengan tepi rata atau bergerigi, cabang yang mendukung
gelembung udara selalu ada (Kasjian, 2001).
Gelembung udara ini berfungsi sebagai alat pengapung dan menjaga tubuh untuk
tetap tegak dalam air. Menurut Fritisch (1945) dan pada anggota Sargassaceae
yang lebih rendah tingkatannnya, gelembung udara mungkin berkembang seperti
”daun”, sebaliknya kadang ”daun” ditempati oleh gelembung udara, sehingga dapat
dikatakan bahwa gelembung udara homolog dengan ”daun”. Alga ini kaya akan
sumber algin, tannin dan phenol yang banyak dimanfaatkan
dalam industri farmasi dan kosmetik. Selain itu dalam dunia kesehatan,
berfungsi sebagai anti bakteria, anti tumor dan efektif untuk gondok dan
masalah kelenjar lainnya.
Secara umum reproduksi seksual makro algae coklat
termasuk marga Sargassum ada beberapa tipe daur hidup antara lain (Kasjian, 2001):
1. Haplobiontik diploid yakni individu melakukan daur hidup
secara diploid. Meiosis terjadi pada gamet (gametik meiosis) berkembang menjadi
individu dewasa tipe daur hidup semacam ini banyak terdapat pada makro algae
coklat dan hijau.
2.
Diplobiontik yaitu dalam proses pembiakan terdapat dua
individu dalam daur hidup gametophyte (gametofit) haploid yang menghasilkan
gamet, dan sporophyte (sporofit) diploid yang menghasilkan spora. Tipe daur
hidup ini lebih umum terdapat pada makro algae coklat, merah dan hijau.
Pertemuan antara dua gamet jantan dan betina akan membentuk zigot yang kemudian
berkembang menjadi sporofit. Individu baru inilah yang mengeluarkan spora dan
berkembang melalui meiosis dan sporagenesis menjadi gametofit.
Ada beberapa poin penting dari hasil penelitian
ini yang dapat dijadikan kesimpulan, antara lain:
1. Tingkat
keanekaragaman makroalga di Pantai Kondang Merak Malang masih dapat dikatakan
tinggi berdasarkan banyaknya jenis alga yang kami temukan secara keseluruhan.
2. Salah satu dari
spesies alga yang kami temukan antara lain Sargassum turbinarioides
dari divisi Phaeophyta dan Gracilaria textorii dari divisi
Rhodophyta.
Mengingat laporan ini masih jauh dari sempurna,
diharapkan kepada masing-masing individu untuk melakukan persiapan-persiapan
sebelum melakukan observasi dan identifikasi. Misalnya memperluas wawasan di
bidang taksonomi baik teori maupun praktik agar hasil yang didapat dapat berupa
data yang memberikan informasi baru dari sudut pandang mahasiswa, bukan hanya
dari buku-buku referensi yang sudah ada.
Aziz, 2008. .Botani Tumbuhan Rendah. ITB.
Bandung
Dawes,
C.J. 1981. Marine Botany. Canada :
Jhon wiley and son ine.
Estiati
B, Hidayat. 1995.Taksonomi tumbuhan (Cryptogamae). Bandung: ITB Bandung.
Fried,
G.H. dan Hademenos,G.J. 2005. Biologi Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Kasijan Romimohtarto, Sri Juwana. 2001. Biologi Laut :
Ilmu Pengantar Tentang Biologi Laut. Jakarta : Djambatan.
Kim, Myung-Sook dkk. Taxonomy and phylogeny
of flattened species of Gracilaria (Gracilariceae, Rhodophyta) from
Korea based on morphology and protein-coding plastid rbcL and psbA
sequences. Journal Phycologia (2006) Volume 45 (5), 520–528
Kimball,
Jhon W.1999. Biologi Edisi kelima Jilid
3. Jakarta : Erlangga.
Nabhan,
Gary Paul. 2003. Singing the Turtles to Sea: the Comcaac (Seri) art and
Science. Londong: University of California Press, Ltd.
Sulisetijono.
2009. Bahan Serahan Alga. Malang:
Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim Malang
Tjirosoepomo,
Gembong. 1998. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta.
UGM Press.
Woo, Seonock dkk. Differential Gene
Expression in a Red Alga Gracilaria textorii(Suringar) Hariot
(Gracilariales, Florideophyceae) between Natural Populations. Journal of
Mol. Cell. Toxicol. Vol. 4(3), 199-204, 2008
Yamamoto, Hirotoshi.1978. Systematic and Anatomical Study
of the Genus Gracilaria in Japan. Hokkaido: Hokkaido University
No comments:
Post a Comment