Monday, December 2, 2013

Laporan KKL Kondang Merak












LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN STUDI KEANEKARAGAMAN MAKROALGA DI ZONA PASANG SURUT PANTAI KONDANG MERAK

STUDI KEANEKARAGAMAN MAKROALGA
DI ZONA PASANG SURUT PANTAI KONDANG MERAK

Dosen Pengampu:
Sulisetijono, M. Si.
Ainun Nikmati Laily, M. Si.





JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2013 



Bissmillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur ke Hadirat Allah SWT yang melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Pantai Kondang Merak  yang menjadi salah satu tugas mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Rendah. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada junjunan alam nabi besar Muhammad SAW.
Selanjutnya, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah banyak memberikan bantuan, bimbingan dan motivasi khususnya kepada:
1.      Dr. Evika Sandi Savitri, M,Si. selaku Ketua Jurusan Biologi yang telah memotivasi, membantu dan memberikan penulis arahan yang baik dan benar dalam menyelesaikan penulisan laporan penelitian ini.
2.      Ainun Nikmati laily,M.Si. selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan waktu luang, arahan dan kontribusi dalam penyelesaian laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Pantai Kondang Merak ini.
3.      Semua pihak yang telah membantu penulis hingga terselesaikanya laporan penelitian ini, Semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal atas jasa dan bantuan yang telah diberikan.
Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna, kritik dan saran sangat dibutuhkan demi penyempurnaan laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini. Semoga laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL)  ini dapat bermanfaat dan menambah khazanah ilmu pengetahuan.

Malang, 19 Oktober 2013
                                                                                                                        Tim Penulis












 

BAB I
Allah menciptakan Alam Semesta ini terdiri dari daratan dan lautan. Pada daratan dan lautan tersebut terdapat berbagai macam mahluk hidup yang telah diciptakan dengan sebaik-baiknya penciptaan. Jumlah mahluk hidup di lautan lebih banyak dari pada mahluk hidup yang ada di daratan.
Hal tersebut terbukti dalam alquran bahwa penyebutan kata laut atau dalam bahasa arabnya adalah bahr sebanyak 32 ayat sedangkan  kata daratan (barrun) hanya 13 ayat. Allah menciptakan tumbuhan yang berada di laut yaitu untuk kemakmuran dan  kesejahteraan hidup manusia yang diantaranya bisa di jadikan sebagai bahan makanan, sebagai energi, perhiasan dan lain-lain, diantara tumbuhan laut  yang bisa dimanfaatkan manusia adalah  Alga. Firman allah dalam surah An-nahl ayat 14:
وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (QS. An-Nahl [16] : 14).
Alga adalah organisme berkloroplas yang dapat menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis. Ukuran alga beragam dan beberapa micrometer sarnpai beberapa meter panjangnya. Alga tersebar luas di alam dan dijumpai hampir disegala macam lingkungan yang terkena sinar matahari. Dalam dunia tumbuhan ganggang termasuk kedalam dunia Thallopyta (tumbuhan talus). Thallophyta adalah tumbuhan yang belum memiliki daun, akar dan batang yang jelas dan Thallophyta merupakan tumbuhan yang bertalus termasuk diantaranya adalah golongan jamur atau fungi, bakteri dan ganggang atau alga.
            Indonesia adalah negara maritim karena perairannya lebih luas dari pada daratan. Berbagai biota laut baik flora maupun fauna terdapat di Indonesia. Keragaman jasad-jasad hidup yang kesemuanya membentuk dinamika kehidupan di laut yang saling berkesinambungan dapat ditemukan.
Salah satu tempat yang keragaman flora dan faunanya masih alami adalah pantai Kondang Merak. Menurut Bengen (2001) laut sebagai penyedia sumber daya alam yang produktif baik sebagai sumber pangan, tambang mineral, dan energi, media komunikasi maupun kawasan rekreasi atau pariwisata. Karena itu wilayah pesisir dan lautan merupakan tumpuan harapan manusia dalam pemenuhan kebutuhan di masa datang. Alga termasuk salah satu biota laut yang banyak ditemukan di laut.
Oleh karena itu, kuliah kerja lapangan (KKL) di kondang merak ini sangat penting sekali agar mahasiswa jurusan  biologi Khususnya UIN maliki malang dapat mentafakkuri ayat-ayat qauniyah, dapat mengaplikasikan teori-teori yang didapatkan di perkuliahan dan dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat luas khususnya dalam bidang sains.


Tujuan diadakannya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di kondang merak ini adalah:       
1.                        Untuk mengetahui keanekaragaman alga yang berhabitat di zona pasang surut Pantai Kondang Merak Malang Selatan.
Setelah melakukan  Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Kondang Merak ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.    Pengetahuan tentang dunia laut.
2.     Informasi bagi Masyarakat luas tentang dunia laut.
3.    Mengetahui manfaat dari makro alga yang diamati.
4.    Pengetahuan bagi mahasiswa dalam membedakan semua spesies dari  makroalga yang  ada.
5.    Pemahaman bagi mahasiswa tentang semua makroalga yang ada di Pantai Kondang Merak.









Klasifikasi alga laut, makro alga menurut Dawes (1981), terdiri dari tiga division yaitu Rhodophyta (alga merah ), Phaeophyta ( alga cokelat ), dan Clhorophyta ( alga hijau ). Menurut Tjitrosoepomo 1998, phaeophyceae adalah ganggang yang berwarna pirang. Dalam kromatoforanya terkandung klorofil a, karoten, dan xantofil , tetapi terutama fikixantin yang menutupi warna lainnya dan yang menyebabkan ganggang itu kelihatan berwarna pirang (Tjitrosoepomo,1998).
            Phaeophyta (berasal dari bahasa Yunani, phaios yang berarti gelap), merupakan alga multiseluler yang dikenal dengan nama alga coklat. Warna coklatnya berasal dari pigmen fukosantin yang dimilikinya. Selain pigmen coklat, pada Phaeophyta ditemukan juga pigmen lainnya berupa klorofil a dan c, serta pigmen karotin. Oleh karena keberadaan klorofil ini, Phaeophyta bersifat autotrof. Fotosintesisnya terjadi pada helaian yang menyerupai daun. Hasil fotosintesisnya berupa karbohidrat yang yang disebut laminarin (Estiati B, Hidayat. 1995).
Alga coklat umumnya hidup di lingkungan laut. Hanya beberapa jenis Phaeophyta yang saja yang hidup di air tawar. Banyak alga coklat memiliki struktur berisi udara yang membuat mereka dapat melayang di air (Pitriana, 2008). Phaeophyta hidup melekat pada dasar perairan (melalui semacam akar), sedangkan bagian tubuh lainnya mengapung di air, dan melekat pada batu karang (Aziz, 2008).
Bentuk tubuh Phaeophyta tampak menyerupai tumbuhan tingkat tinggi karena adanya bagian yang menyerupai akar, batang, dan daun. Tinggi Phaeophyta dapat mencapai 50 sampai 100 meter (Aziz, 2008).
Anggota kelopok Phaeophyta juga dikenal sebagai tumbuhan berukuran raksasa (giant kleps), misalnya Macrocystis sp. dan Nereocytis sp. yang menghuni pantai pasifik. Di indonesia, jenis Phaeophyta yang terkenal adalahTurbinaria austrilis, Sargasum siliquosum, dan Fucus vesiculosus. Ketiga jenis alga tersebut biasa dijimpai sepanjang garis pantai. Di laut yang beriklim sedang, terutama di laut Atlantika Utara dikenal sebagai kawasan Alga Sargassum. Alga tersebut tampak mengambang dan menutupi sebagian permukaan laut sehingga orang mengenalnya sebagi Sargaso (Aziz, 2008).
Alga cokelat kebanyakan multiseluler dan merupakan begian dari populasi rumput laut dilingkungan lingkungan laut beriklim sedang dan dingin. Seperti juga pada cryshophyta, phaeophyta juga memilki klorofil a dan b, serta karetonoid fukoxantin. Phaeophyta juga menyimpan kalorinya sebagai minyak dan sakarida lamarin. Dalam bentuk kelp raksasa, panjangnya bias mencapai lebih dari 50 m. pola reproduksinya dirincikan oleh pergiliran generasi ( Fried : 2005 ).
Semua alga cokelat multiseluler, bentuk bentuk yang hampir seperti tumbuhan semata mata ditemukan diair asin. Gulma batuan yang membentuk hamparan padat yang berganti ganti dan kelp merupakan anggota filum ini yang besar dan tersebar luas. Alga cokelat dipakai untuk makanan dibeberapa daerah pantai dipermukaan bumi, di Amerika serikat, sebagai sumber pupuk dan yodium ( Kimball, 1999 ).
Kebanyakan phaeophyceae hidup sebagai litofit, tetapi beebrapa jenis dapat sebagai epifit atau endofit pada tumbuhan lain atau alga makroskopik yang lain. Pada umumnya phaeophyceae memiliki tingkat yang lebih tinggi secara morfologi dan anatomi differensisasinya dibandingkan keseluruhan alga. Tidak ada bentuk yang berupa sel tunggal atau koloni ( filament yang tidak bercabang). Susunan tubuh yang paling sederhana adalah filament heterotrikus. Struktur thalus yang paling kompleks dapat dijumpai pada laga pirang yang tergolong kelompok Nereocystis, Makrocystis, dan sargassum ). Pada alga ini terdapat differensiasi eksternal yang dapat dibandingkan dengan berpembuluh. Talus dari alga ini mempunyai alat pelekat menyerupai akar, dan dari alat pelekat ini tumbuh bagian yang tegak dengan bentuk sederhana atau bercabang seperti pohon dengan cabang yang menyerupai daun dengan gelembung udara. Alat gerak pada phaeophyceae pada umumnya berupa flagella yang letaknya berjumlah dua dengan ukuran berbeda. Cadangan makanan berupa laminarin dan manitol. Reproduksi dapat dilakukan secara vegetative, sporik, dan gametik. Reproduksi vegetative umunya dilakukan fragmentasi talus (Sulisetijono, 2009).

Kandungan Bahan kimia pada Sargassum
Algae Sargassum mudah diperoleh di perairan Indonesia, kandungan bahan kimia utama sebagai sumber alginat dan mengandung protein, vitamin C, tannin, iodine, phenol sebagai obat gondok, anti bakteri dan tumor (TRONO & GANZON 1988), sebagai berikut:
1. Algin
Algin merupakan asam alginik, Alginik dalam bentuk derivat garam dinamakan garam alginat terdiri dari sodium alginat, potasium alginat dan amonium alginat. Garam alginat tidak larut dalam air, tetapi larut dalam larutan alkali. Asam alginik tersusun dari asam D-Manuronik dan asam L - Guluronik.
2. Manfaat alginat
Kandungan koloid alginat dari algae Sargassum (Gambar 6.) dalam industri kosmetik digunakan sebagai bahan pembuat sabun, po-made, cream body lotion, sampo dan cat rambut. Di industri farmasi sebagai bahan pembuat kapsul obat, tablet, salep, emulsifier, suspensi dan stabilizer. Di bidang pertanian sebagai bahan campuran insektisida dan pelindung kayu. Di industri makanan sebagai bahan pembuat saus dan campuran mentega. Manfaat lainnya dalam industri fotografi, kertas, tekstil dan keramik. Di bidang kesehatan iodine digunakan sebagai obat pencegah penyakit gondok..
            Alga merah atau Rhodophyta (berasal dari bahasa Yunani, rhodon, yang artinya merah). Rhodophyta merupakan alga multiseluler berukuran besar yang biasa dikenal sebagai rumput laut. Warnanya merah karena mengandung pigmen fikoeritrin (Estiati B, Hidayat. 1995).
Alga merah hidup di luat dalam, terutama di laut beriklim panas. Anggota kelompok alga merah dapat ditemukan di daerah pantai hingga kedalaman 100 meter (Aziz, 2008).
Alga merah biasa menempel pada alga lain atau pada batu. Ada juga yang hidup bebas mengapung dipermukaan air. Alga merah biasa ditemukan di air cukup dalam, lebih dalam dibanding tempat tumbuh kelompok alga lainnya. Fikobilin, pigmen pada alga merah, dapat mengumpulkan cahaya hijau dan biru yang masuk ke air yang dalam. Dengan begit alga merah dapat berada di lokasi perairan yang lebih dalam dibanding alga lainnya (Estiati B, Hidayat. 1995).
Bentuk alga merah seperti rumput sehingga sering disebut sebagai rumput laut (seaweed). Tubuhnya bersel banyak dan kebanyakan berbentuk lembaran sederhana dengan cabang-cabang halus seperti pita. Di dalam selnya terdapat pigmen klorofil a dan fikobilin. Fikobilin adalah semacam pigmen yang terdapat pada fikoeritrin dan fikosianin. Melalui pigmen fikobilin, gelombang cahaya yang masuk ke dalam laut diserap. Kemudian mentransfer energi cahaya ke klorofil untuk keperluan fotosintesis. Bentuk dari hasil fotosintesis adalah karbohidrat yang disebut tepung floridean (Aziz, 2008).
Contoh alga merah adalah Euchemma spinosum, Gilidium, Rhodymenia, danScinata. Eucemma spinosum merupakan penghasil agar-agar di daerah dingin. Beberapa famili Corraline memiliki dinding sel berkalsium karbonat. Alga ini ikut membentuk fosil (Estiati B, Hidayat. 1995).
Alga merah terutama tersusun atas rumput laut. Rhodophyta mengandung klorofil a, tapi tidak ada yang mengandung klorofil b dan c. warna merahnya disebabkan oleh keberadaan sebuah pigmenaksesoris, fikoeritrin, yang tergolong kedalam kelompok fikobilin. Semua rhodophyta adalah multiseluler dan bereproduksi secara seksual. Walaupun hanya beberapa spesies yang telah dipelajari secara mendetail biasanya ditemukan pergiliran generasi (fried dkk, 2005).
Alga merah merupakan eukariota yang baik sehingga mereka menggabungkan klorofilnya dalam satu atau lebih kloroplas. Akan tetapi, system membrane dalam kloroplas ini sangat mirip dengan yang terdapat dalam sel sel alga hijau biru. Kesamaan antara keduanya itu menyebar sampai ke pigmennya. Alga merah sebagaimana alga hijau biru, mempunyai fikosianin dan fikoeritrin dalam membrane fotosintetiknya. Keduanya berguna sebagai pigmen antenna, yang meneruskan energy yang diserap  kepada klorofil a. Beberapa alga merah digunakan  sebagai makanan didaerah pantai, terutama dikawasan Timur. Agar agar yang secara luas digunakan sebagai dasar untuk pesmbiakan bakteri dan organism lain diskstrak dari alga merah (Kimball, 1992).
Talus dari alga merah bervariasi, mengenai bentuk tekstur dan warnanya. Bentuk talus ada yang silindris, pipih, dan lembaran. Rumpun yang terbentuk oleh berbagai system percabangan ada yang tampak sederhana berupa filament dan ada pula yang berupa percabangan yang komplek. Warna talus bervariasi, ada merah, ungu, cokelat, dan hijau ( Sulisetijono, 2009 )



Penelitian ini dilakukan di Pantai Kondang Merak Kabupaten Malang selama 2 hari yaitu pada hari Sabtu hingga Minggu pagi pada tanggal 12-13 Oktober 2013. Penelitian ini dibagi menjadi dua langkah. Langkah pertama adalah koleksi spesies alga yang tersebar pada sepanjang zona pasang surut pantai Kondang Merak pada sore hari Sabtu mulai pukul 15.30- 17.00. Langkah kedua dilakukan pada keesokan harinya, yaitu identifikasi dan  klasifikasi alga yang telah di temukan.
1.      Kamera                                                  1 buah
2.      Penggaris                                               2 buah
3.      Kantong Plastik                                     secukupnya
4.      Ice box                                                   1 buah
5.      Buku identifikasi                                   4 buah
6.      Alat tulis dan kertas                              secukupnya
7.      Toples Kaca bening                               4 buah
8.      Label                                                      secukupnya
1.      Formalin 5%                                          secukupnya
2.      Spesies Alga
1.    Pertama menunggu air laut surut
2.    Dimulailah pencarian spesies alga di sekitar bibir pantai kira – kira 0,5 – 10 m dari bibir pantai
3.    Setiap spesies alga yang ditemukan langsung didokumentasikan menggunakan kamera dan diukur dengan penggaris
4.    Setelah didokumentasikan , dimasukkan ke dalam Ice box agar alga tetap segar
5.    Lalu masing – masing spesies alga diidentifikasi dengan menggunakan buku identifikasi sebagai pedomannya.
6.    Dicatat dalam laporan sementara ciri – ciri alga dan digunakan kunci determinasi untuk mengidentifikasi spesiesnya.
7.    Setelah ditemukan nama spesiesnya , alga dimasukkan ke dalam toples kaca bening yang telah diisi dengan formalin sebagai upaya pengawetan.
8.    Masing – masing toples diberi label untuk mengetahui nama spesiesnya .





Gambar Pengamatan
Gambar Literatur

Woo dkk, 2008
Keterangan:
1.               Memiliki Hodfast yang melekat pada karang
2.               Talus berwarna merah keunguan pada bagian dekat holdfast dan semakin ke ujung warnanya semakin memudar
3.               Tekstur talus kenyal, permukaannya licin dan mengilap. Beberapa bagian permukaan sedikit bergelombang dan jika ditekan seperti berisi air.
4.               Tepi berlekuk-lekuk dengan kedalaman lekuk yang variatif.
Klasifikasi Gracilaria textorii menurut E. Y. Dawson:
Kingdom         : Plantae
            Divisi  : Rhodophyta
                        Kelas   : Rhodophyceae
                                    Ordo    : Gracilariales
                                                Famili : Gracilariaceae
                                                            Genus  : Gracilaria
                                                                        Spesies            : Gracilaria textorii

Salah satu spesies alga yang kami temukan adalah alga golongan divisi Rhodophyta yaitu Gracilaria textorii. G. textorii memiliki bentuk yang sedikit mirip dengan Ulva lactuca namun ukurannya lebih besar dan lebih tebal. G. textorii memiliki warna merah keunguan dengan warna pada pangkal lebih gelap, semakin ke ujung warnanya semakin memudar. Bentuk talusnya serupa lembaran licin, kenyal dan mengilap. Tebalnya sekitar 1-2 mm. Beberapa bagian pada permukaan talusnya ada bagian yang sedikit menonjol seperti mengandung air. Tepinya bergelombang tidak teratur menyerupai lekuk-lekuk sedalam setengah sampai satu senti.
G. textorii merupakan salah satu spesies yang umum di Korea. Meskipun Suringar sebelumnya menamai spesies ini dengan Sphaerococcus textorii setelah studinya mengenai spesimen-spesimen di Jepang, pada 1891 Hariot menempatkan spesies ini dalam genus Gracilaria berdasarkan daunnya yang rata, sel-sel dengan butiran amilum, dan sistokarp hemisferis yang menyebar di dua sisi helaian talusnya. Spesies ini juga ditemukan di Rusia, Taiwan, Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, Pulau-Pulau Pasifik, Samudera Hindia, Australia dan Selandia Baru. G. textorii memiliki karakteristik talus yang rata dengan percabangan dikotom yang tidak teratur (Kim dkk, 2006).
G. textorii banyak ditemukan tumbuh pada karang, terutama pada daerah pasang surut dan pada permukaan zona subliteral. Secara morfologis, lebar talusnya sekitar 1-2 cm dan tebalnya sekitar 500-800 mikrometer. Beberapa bagiannya bergelombang dan tipis pada bagian atas. Warnanya merah kecoklatan dan kadang merah kekuningan (Yamamoto, 1978).
Sporofit dari G. textorii dapat diamati pada bulan Februari hingga Agustus pada zona intertidal. Gametogenesis mulai terjadi dari Juli sampai Agustus. Sporofit menghilang setelah dia mengeluarkan atau melepas sel gametnya. Pada zona subliteral, bagaimanapun, sporofit dapat diamati sepanjang tahun dan populasinya meningkat sepanjang Juli hingga Agustus (Woo dkk, 2008).
G. textorii memiliki bentuk yang berbeda dari alga lainnya karena cabang-cabangnya yang sempit dan relatif besar, yaitu sekitar 6-12 inchi serta struktur parenkimalnya. Biasanya berwarna merah pudar, teksturnya licin, dan menetap di daerah intertidal dan zona intertidal (Nabhan, 2003)

Seperti golongan Gracilaria lainnya, G. textorii hidup dalam 3 bentuk pertumbuhan. Se-cara morfologi memang ketiga bentuk pertumbuhan tadi sangat sulit dibedakan, namun jika dilihat dari segi anatomi maka dapat dibedakan antara bentuk sporofit, gametofit dan bentuk karposporofit. Bentuk sporofit adalah tumbuhan yang memiliki kromosom diploid (2n), gametofit adalah bentuk tumbuhan haploid (In), sedangkan karposporofit adalah bentuk tumbuhan haplo-diploid (sedang mengandung). Umumnya, karposporofit dapat dibedakan dari sporofit dan gametofit, karena pada permukaan thallus sering dijumpai tonjolan-tonjolan bulat (Sjafrie, 1990).
Seperti umumnya Rhodophyceae, daur hidup Gracilaria bersifat 'trifasik' (3 bentuk pertumbuhan), yang mengalami per-gantian generasi antara seksual dan aseksual. Apabila awal perkembangbiakan dimulai dari generasi aseksual maka akan terlihat bahwa sporofit akan membentuk suatu badan yang disebut dengan tetrasporangia. Adapun ben-tuk dan ukuran tetrasporangia pada masing-masing jenis sangat bervariasi (Sjafrie, 1990).
Ada sedikit kejanggalan pada spesies yang kami temukan ini karena adanya banyak perbedaan dari gambar literatur yang kami dapat. Hal ini mungkin karena keterbatasan pengetahuan yang kami miliki mengenai taksonomi dan cara klasifikasi serta identifikasi.

Gambar Pengamatan
Gambar Literatur

www.personal.umich
           
Keterangan :
1.      Memiliki holdfast dan thallus
2.      Warna thalus coklat
3.      Memiliki air bladder
4.      Thallus bagian atas seperti Turbinaria (berbentuk seperti terompet)
5.      Thallus bagian bawah seperti sargassum (berbentuk lembaran dengan tepinya yang bergerigi)
6.      Percabangan semakin ke atas semakin kecil
7.      Batang pendek dengan percabangan utama tumbuh rimbun
Klasifikasi
Kingdom : Plantae                                                                                                                 
        Divisio : Phaeophyta                                                                                                                
               Kelas : Phaeophyceae                                                                                                            
                      Ordo : Fucales                                                                                                       
                           Family : Sargassaceae                                                                                                    
                                  Genus : Sargassum                                                                                                       
                                         Spesies : Sargassum turbinarioides

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan diketahui bahwa spesies yang ditemukan bentuknya mirip dengan Sargassum sp. Dan Turbinaria sp. Hal itu dapat diketahui dari bentuk thallus bagian bawah dan atas yang berbeda.  Thallus bagian bawah berbentuk seperti Sargassum sp.(berbentuk lembaran yang tepinya bergerigi), sedangkan thallus bagian atas bentuknya menyerupai Turbinaria sp.(berbentuk seperti terompet), memiliki holdfast dan thallus, warna thalus coklat, terdapat  air bladder (pelampung), percabangan semakin ke atas semakin kecil, Batang pendek dengan percabangan utama tumbuh rimbun.
Secara morfologi, thallus dari ganggang ini berbeda dengan ganggang yang lain, dengan bagian-bagian yang dapat dibedakan menjadi ”holdfast” (alat pelekat), sumbu pokok yang silindris, cabang-cabang yang menyerupai daun yang steril, gelembung udara yang berbentuk seperti bola reseptakel. Berwarna coklat cerah, melekat pada substrat dengan alat pelekat, thallus Sargassum dibedakan oleh sistem percabangan lateralnya dengan cabang-cabang yang pertumbuhannya terbatas (daun/filoid) dan cabang-cabang yang pertumbuhannya tidak terbatas (batang/cauloid). Cauloid tersebut ramping bercabang atau tidak bercabang, dengan filoid yang lebar dan sempit, dengan tepi rata atau bergerigi, cabang yang mendukung gelembung udara selalu ada (Kasjian, 2001).
                Gelembung udara ini berfungsi sebagai alat pengapung dan menjaga tubuh untuk tetap tegak dalam air. Menurut Fritisch (1945) dan pada anggota Sargassaceae yang lebih rendah tingkatannnya, gelembung udara mungkin berkembang seperti ”daun”, sebaliknya kadang ”daun” ditempati oleh gelembung udara, sehingga dapat dikatakan bahwa gelembung udara homolog dengan ”daun”. Alga ini kaya akan sumber algin, tannin dan phenol yang banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi dan kosmetik. Selain itu dalam dunia kesehatan, berfungsi sebagai anti bakteria, anti tumor dan efektif untuk gondok dan masalah kelenjar lainnya.
Secara umum reproduksi seksual makro algae coklat termasuk marga Sargassum ada beberapa tipe daur hidup antara lain (Kasjian, 2001):
1.      Haplobiontik diploid yakni individu melakukan daur hidup secara diploid. Meiosis terjadi pada gamet (gametik meiosis) berkembang menjadi individu dewasa tipe daur hidup semacam ini banyak terdapat pada makro algae coklat dan hijau.
2.      Diplobiontik yaitu dalam proses pembiakan terdapat dua individu dalam daur hidup gametophyte (gametofit) haploid yang menghasilkan gamet, dan sporophyte (sporofit) diploid yang menghasilkan spora. Tipe daur hidup ini lebih umum terdapat pada makro algae coklat, merah dan hijau. Pertemuan antara dua gamet jantan dan betina akan membentuk zigot yang kemudian berkembang menjadi sporofit. Individu baru inilah yang mengeluarkan spora dan berkembang melalui meiosis dan sporagenesis menjadi gametofit.


Ada beberapa poin penting dari hasil penelitian ini yang dapat dijadikan kesimpulan, antara lain:
1.      Tingkat keanekaragaman makroalga di Pantai Kondang Merak Malang masih dapat dikatakan tinggi berdasarkan banyaknya jenis alga yang kami temukan secara keseluruhan.
2.      Salah satu dari spesies alga yang kami temukan antara lain Sargassum turbinarioides dari divisi Phaeophyta dan Gracilaria textorii dari divisi Rhodophyta.
Mengingat laporan ini masih jauh dari sempurna, diharapkan kepada masing-masing individu untuk melakukan persiapan-persiapan sebelum melakukan observasi dan identifikasi. Misalnya memperluas wawasan di bidang taksonomi baik teori maupun praktik agar hasil yang didapat dapat berupa data yang memberikan informasi baru dari sudut pandang mahasiswa, bukan hanya dari buku-buku referensi yang sudah ada.





Aziz, 2008. .Botani Tumbuhan Rendah. ITB. Bandung
Dawes, C.J. 1981. Marine Botany. Canada : Jhon wiley and son ine.
Estiati B, Hidayat. 1995.Taksonomi tumbuhan (Cryptogamae). Bandung: ITB Bandung.
Fried, G.H. dan Hademenos,G.J. 2005.  Biologi Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Kasijan Romimohtarto, Sri Juwana. 2001. Biologi Laut : Ilmu Pengantar Tentang Biologi Laut. Jakarta : Djambatan.
Kim, Myung-Sook dkk. Taxonomy and phylogeny of flattened species of Gracilaria (Gracilariceae, Rhodophyta) from Korea based on morphology and protein-coding plastid rbcL and psbA sequences. Journal Phycologia (2006) Volume 45 (5), 520–528
Kimball, Jhon W.1999. Biologi Edisi kelima Jilid 3. Jakarta : Erlangga.
Nabhan, Gary Paul. 2003. Singing the Turtles to Sea: the Comcaac (Seri) art and Science. Londong: University of California Press, Ltd.
Sulisetijono. 2009. Bahan Serahan Alga. Malang: Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Tjirosoepomo, Gembong. 1998. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta. UGM  Press.
Woo, Seonock dkk. Differential Gene Expression in a Red Alga Gracilaria textorii(Suringar)   Hariot  (Gracilariales, Florideophyceae) between Natural Populations. Journal of Mol. Cell. Toxicol. Vol. 4(3), 199-204, 2008
Yamamoto, Hirotoshi.1978. Systematic and Anatomical Study of the Genus Gracilaria in Japan. Hokkaido: Hokkaido University


No comments:

Post a Comment